Toleransi antar agama di dunia nampaknya belum dapat terjalin dengan baik. Bagaimana tidak, banyak aksi intoleran menjadi pemberitaan hangat di media sosial. Salah satu aksi yang masih tersimpan dalam ingatan adalah penembakan terhadap puluhan umat muslim di Masjid Selandia Baru.
Selain itu, isu intoleran yang membawa nama agama juga pernah terjadi di Indonesia beberapa tahun lalu, tepatnya di Papua. Dimana umat muslim disalah satu wilayah kota Jayapura itu dibuat terkejut akan adanya pelarangan menunaikan ibadah sholat Idul Fitri oleh sekelompok pemuda dari gereja. Hal ini dikarenakan speaker yang terlalu keras dianggap mengganggu ketertiban umum. Oleh sebab inilah perlu adanya kesadaran untuk menghargai perbedaan. Karena kita adalah bangsa Indonesia yang mempunyai semboyan persatuan.
Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan persatuan khas Indonesia. Semboyan tersebut mempunyai arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dari semboyan itulah dapat kita pahami bahwa Indonesia sangat menghargai perbedaan yang ada. Dengan perbedaan itu pula yang menjadikan Indonesia sebagai negara penuh warna.
Berbicara tentang perbedaan, alangkah lebih baiknya kita melihat salah satu desa di kota Lamongan. Desa Balun namanya. Desa itu merupakan kawasan pemukiman warga yang mempunyai tiga rumah ibadah yang saling berdampingan, yaitu masjid, gereja dan pura. Ketiga tempat ibadah tersebut juga sangat berdekatan. Sebab keunikan akan keragamanya, desa itu dijuluki desa Pancasila.
Masyarakat di desa Balun juga hidup rukun dan harmonis walaupun banyak perbedaan di dalamnya. Salah satu wujud keharmonisannya adalah ketika memperingati hari besar salah satu agama. Masyarakat kompak saling membantu menyiapkannya, termasuk juga dari agama lain.
Saat pembuatan Ogoh-ogoh sebagai perayaan Nyepi umat Hindu misalnya, tidak hanya dibuat oleh masyarakat yang memeluk agama Hindu semata, namun juga dibantu oleh masyarakat yang beragama Kristen dan Islam.
Betapa harmonisnya keragaman yang terjadi di desa ini. Masyarakat santun dengan hati nurani, serta ikhlas menolong tanpa mempermasalahkan perbedaan agama. Dan dari desa ini, kita sebagai bangsa Indonesia harusnya belajar memahami bahwa perbedaan adalah anugerah besar dari Tuhan. Untuk itu, perbedaan patut disyukuri oleh semua umat manusia, khususnya bangsa Indonesia.
Jikalau di desa Balun dapat menciptakan kerukunan yang indah diantara tiga agama yang berbeda, maka di negara Indonesia pasti juga bisa membuat keharmonisan diantara berbagai macam perbedaan. Keharmonisan tersebut dapat dimulai dari diri kita sendiri yang menjalankan kehidupan bernegara dengan pedoman Bhinneka Tunggal Ika.