Tebarkan Perdamaian Melalui Sepak Bola

Secara umum, santri lebih dikenal dengan akhlak dan ilmu yang mereka dapatkan dari pesantren. Pendidikan yang matang dan berkarakter telah diajarkan sedemikian rupa, sehingga menjadikan santri lebih kreatif, disiplin, dan intelek di bidang apapun. Santri hebat adalah santri yang berakhlakul karimah serta berbakat, dalam artian tidak hanya akhlak terpuji yang harus dimiliki, akan tetapi minat dan bakat juga harus dikembangkan.

Berbakat dalam hal tilawatil quran, membaca kitab kuning, shorof, nahwu dan lain sebagainya adalah hal biasa bagi santri. Hal yang luar biasa adalah jika santri juga berbakat dalam bidang olahraga. Kombinasi antara ilmu disiplin yang diajarkan di pesantren dengan olahraga, dapat membangun dan meningkatkan jiwa kemandirian para santri. Oleh karena itu, banyak sekali potensi yang dapat di ambil dari kalangan santri khususnya santri putra dalam bidang olahraga.

Sepak bola merupakan kegiatan paling diminati di kalangan santri. Hal ini memunculkan sebuah budaya di pesantren, yaitu turnamen lokal.  Pemerintah Indonesia melihat begitu berpotensinya santri putra di dunia sepak bola, sehingga Kemenpora menciptakan sebuah wadah yang banyak memunculkan bibit-bibit unggul dalam dunia persepak bolaan Indonesia. Wadah tersebut adalah Liga Santri Nusantara (LSN) yang telah disahkan oleh menteri pemuda dan olahraga, Imam Nahrowi pada tahun 2015 sebagai liga antar pesantren se-Indonesia.

Liga Santri Nusantara (LSN) dapat mencerminkan sebuah ajang sepak bola tanpa adanya kekerasan dan kecurangan, karena para pemainnya dari kalangan santri. Kejujuran dan tahu etika adalah karakter dari santri itu sendiri. Hal ini diharapkan dapat memperbaiki citra persepakbolaan di Indonesia yang selama ini terkenal tidak sportif dan penuh dengan kecurangan.

Dengan adanya Liga Santri Nusantara, Indonesia dapat membentuk pemain sepak bola yang tidak hanya berbakat dalam megolah si kulit bundar, tetapi juga memiliki pemain yang berkarakter. Karena dalam permainan sepak bola diajarkan untuk menjaga sportivitas, kekompakan, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Karakter pesepakbola santri dapat terlihat dari caranya mencium tangan wasit saat berjabat tangan di lapangan. Hal tersebut merupakan budaya santri yang diajarkan di pesantren, yaitu menghargai dan menghormati orang yang lebih tua. Moral indah inilah yang menjadi dakwah santri melalui sepak bola. Secara tidak langsung, pesepakbola santri mensyi’arkan agama Islam yang damai kepada pecinta sepak bola di Indonesia, bahkan dunia.