Oleh: Risma Ariesta
Menjalani kodrat sebagai seorang wanita adalah sebuah takdir yang sudah ditetapkan Tuhan sejak zaman azali. Kemudian menerima diri sebagai seorang manusia dengan jenis kelamin tersebut, adalah kewajiban yang harus ditunaikan selama nafas masih dikandung badan. Adapun menyalahinya dengan semisal mengubah kodrati menjadi yang selainnya, adalah suatu tanda kufur terhadap nikmat yang sudah Tuhan beri.
Berbicara tentang perempuan, wanita, gadis, cewek, dan banyak lagi persamaan kata lainnya. Ada garis panjang yang harus ditarik dari sejarah untuk kemudian dikaji secara mendalam dan seksama. Sehingga jika dibandingkan dengan kehidupan kaum perempuan di zaman sekarang ini, seharusnya banyak rasa syukur yang senantiasa mengalir dalam hati lalu terucp dalam lisan “Alhamdulillah”.
Jika kita menengok kembali sejarah wanita ketika zaman jahiliyyah atau saat sebelum Islam datang, maka akan kita temukan kenyataan pahit yang bercecer namun harus kita telan. Kemudian, mencernanya agar menjadi pelajaran yang berharga. Dimana, perempuan sangat tidak berharga bahkan mungkin lebih rendah dari harta warisan. Karena kaum mereka sendirilah yang menjadi harta warisan itu.
Mengutip salah satu ayat dalam kitab suci Al-Qur’an An Nahl: 58-59, “Dan bila salah seorang dari mereka diberitakan dengan (kelahiran) anak perempuan, berubah kecewalah wajahnya dan dia dalam keadaan marah. Dia berusaha menyembunyikan dari masyarakatnya apa yang diberitakan kepadanya. Apakah dia biarkan hidup dalam keadaan hina atau dia kubur. Alangkah jahatnya apa yang mereka hukumi”.
Melalui ayat di atas, secara tidak langsung Allah menggambarkan betapa bobroknya akhlak orang-orang yang hidup di zaman jahiliyyah. Banyak orang tua yang malu ketika mereka memiliki anak perempuan dari istrinya. Bahkan, mereka tak segan untuk mengubur bayi yang tidak berdosa itu secara hidup-hidup. Tidak sampai di situ saja, kerap juga terjadi pelecehan terhadap wanita dan segala bentuk kekejaman lain yang memosisikan kaum wanita sebagai korban secara terus menerus.
Namun setelah Islam hadir, derajat kaum Hawa diangkat Allah secara signifikan. Hal ini senada dengan haidts Nabi Muhammad SAW, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”. Hal ini menjadikan eksistensi kaum wanita tak lagi dipandang sebelah mata.
Namun demikian, sejarah bangkitnya kaum perempuan itu ternyata tidak berhenti sampai di zaman Nabi saja. Pasalnya, di negara selain Arab, isu terkait perempuan masih sering menjadi kasus yang ditangani pihak berwajib. Selanjutnya, hal tersebut justru melahirkan pahlawan-pahlawan dari kaum perempuan sebagaimana yang kita ketahui di Indonesia ada Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan banyak lagi.
Hal tersebut membuktikan bahwa kaum wanita tidak selamanya pantas untuk dicap lemah. Perempuan tidak bisa selamanya dijadikan sebagai korban. Karena sesungguhnya, kekuatan kaum perempuan itu bukan terlihat dari fisiknya, melainkan hatinya. Jadi, jangan remehkan kaum wanita dalam hal apapun. Karena sejatinya apapun gendernya memiliki derajat yang sama di mata Tuhan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang sebaik-baiknya, atas dasar ridho-Nya.