Seminar Internasional Sufism di IAIN Salatiga dan UNDARIS Ungaran, Hasil Kolaborasi dengan Yayasan Hidayah Bangsa

Pada tanggal 10 Juni 2022, bertempat di Salatiga dan Ungaran, Yayasan Hidayah Bangsa kembali melakukan kolaborasi dengan dua universitas. Kedua universitas tersebut adalah IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Salatiga dan UNDARIS (Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI) Ungaran. Kolaborasi yang tercipta berupa diadakannya seminar internasional yang mengangkat pembahasan mengenai sufism.

Adapun pada kesempatan kali ini, pemateri adalah Dr. Christoper M. Joll. Seorang anthropologist berkebangsaan New Zealand yang telah melakukan riset terkain dengan ajaran sufism di Thailand dalam waktu yang lama. Utamanya pada tiga provinsi di Thailand bagian selatan yang menjadi basis umat muslim terbesar di Thailand. Adalah Pattani, Yala, dan Narathiwat. Perkembangan sufism yang terbilang masif di tiga provinsi tersebut membuat Dr. Chris M. Joll tertarik untuk melakukan riset pada masyarakat yang menganut ajaran tersebut.

Dalam seminar ini, Dr. Chris menyampaikan bagaimana pengaruh Islam di Indonesia pada penduduk muslim minoritas yang berada di Thailand bagian selatan. Dengan jelas juga, Dr. Chris merunutkan sejarah perkembangan Islam di Thailand dari tahun ke tahun berdasarkan hasil riset yang ia dapatkan.

Dr. Chris juga menjelaskan bagaimana penyebaran ajaran sufism di Negeri Gajah Putih tersebut. Dan juga bagaimana perkembangannya. Pada saat ini ajaran sufism telah menjadi sejenis ajaran agama yang berkembang.

Selain pemateri yang seorang anthropologist. Yayasan Hidayah Bangsa juga menghadirkan seorang pemateri lain. Adalah Dr. Robert John Pope, yang membawakan materi terkait dunia dalam kondisi multicultural dan kebebasan yang tiada batas.

Dr. Robert John Pope merupakan lulusan magister dan doctoral dari Universitas Muhammadiyah Malang dengan mengambil riset studi mengenai islam. Pada seminar internasional ini, Dr. Robert menyampakan tentang bagaimana tantangan ke depan seorang muslim muda dalam menghadapi dunia yang multikultur dan semakin bebas tanpa ada batasan.

Lebih dari seratus peserta yang hadir pada seminar internasional yang diadakan di dua universitas berbeda tersebut sangat antusias dengan materi yang disampaikan oleh kedua pemateri.

Keberhasilan atas terselenggaranya seminar internasional ini juga merupakan campur tangan dari Yayasan Hidayah Bangsa. Yang menjadi penjembatan antara pihak universitas dan pemateri. Beberapa dosen dan mahasiswa merespon baik kesempatan ini. Pun mengharapkan kegiatan semacam seminar internasional dengan pemateri asing ini dapat berlangsung tidak hanya sekali ini saja. Melainkan dapat menjadi sebuah program yang berkelanjutan.

…………………………………………………………………………….

Respon dari Pemateri tentang kegiatan seminar Internasional yang terselenggara :

Below are some impressions from the brief time I spent speaking at two Islamic universities in central Java, on June 10. The first, was how different they were. I began the day at the Salatiga campus of the state-funded IAIN, and ended the day at Undaris, a private Islamic University near Semarang. I was not surprised that the first event was larger than the second. Neither was I surprised that the warm welcome by local faculty at both places. My final impression of the day was the quality of the questions asked by the students who participated. I was delighted at the interest that my short summary of the range of Islamic movements from Indonesia that have impacted Muslims in Thailand had generated in both these places. (Dr. Christopher M. Joll)

…………………………………………………………………………….

Sebuah kesempatan yang luar biasa untuk saya bisa berbicara di IAIN Salatiga dan juga Undaris Semarang, dan saya sangat senang atas sambutan hangatnya.

Di dua tempat tersebut, saya berbicara tentang “Menyiapkan Para Siswa Muslim sebagai Warga Global Menuju Dunia yang Multikultural”. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada 2 kampus tersebut karena telah mengambil langkah untuk menyiapkan para siswa mereka ke dalam sebuah dunia yang multikultural.

Tidak lagi menjadi kebutuhan primer hanya untuk mendidik para siswa tentang agama lain, namun lebih pada bagaimana berinteraksi, terlibat, dan menghargai budaya dan agama yang berbeda dengan diri mereka sendiri.

Pendekatan yang berpusat pada hati ini menyiapkan para siswa untuk terlibat di masa mendatang dengan dunia yang multikultural, daripada memiliki Pendidikan Agama yang tersegmentasi yang hanya berfokus pada menghafal keyakinan yang standar.

Semoga anda semua mendapatkan keberhasilan dalam perjalanan menyiapkan para mahasiswa anda menuju ke dalam dunia yang saling terhubung. (Dr. Robert John Pope)