Salatiga Berhembus Napas Toleran

Oleh: Tio Famor Gunawan

Indonesia merupakan negara berbasis masyarakat majemuk yang antara lain ditandai oleh beragam suku, ras, dan agama.  Keragaman ini menjadi menarik dan unik oleh karenanya di dalam berbagai perbedaannya juga ada energi sebagai kemampuan untuk menjalin komitmen dalam kesadaran hidup sosial. Dengan demikian keragaman bukan dilihat sebagai perbedaan secara spasial, melainkan sebagai kekayaan secara kultural. Kemajemukan ini dalam kehidupan masyarakat  multikultural biasa dikenal dengan masyarakat berkesadaran plural. Satu ciri utama masyarakat berkesadaran plural adalah pengakuan atas perbedaan dan keberbedaan itu menyatu dalam Bhineka Tunggal Ika yakni berbeda-beda tetapi satu jua.

Performance terhadap agama dan tradisi ini ditemukan dalam keseharian masyarakat di Kota Salatiga. Masyarakat di kota ini adalah prototipe masyarakat plural baik secara etnis, agama, maupun budaya. Selain suku Jawa dan Tionghoa yang lebih dominan, masyarakat Kota Salatiga terdiri dari berbagai latar belakang suku dan etnis, seperti Batak, Minang, Dayak, Bugis, Ambon, Nusa Tenggara Timur,Papua, bahkan dengan hadirnya Sekolah Internasional menggambarkan karakter masyarakat kota Salatiga yang toleran. Beberapa tradisi berkembang di kota ini dengan latar belakang agama Islam, Kristen, Tri Dharma, dan Hindu. Keragaman ini tetap memperlihatkan proses saling interaksi yang sangat terbuka dan dinamis. Boleh jadi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman di masa lalu, tatkala semangat pluralisme memang telah lama berkembang.

Faktanya, kehidupan yang harmonis berhembus napas toleran ini hidup di tengah-tengah keragaman tradisi dan agama di kota Salatiga. Bukanlah hal baru kalau para ibu-ibu turut terlibat merawat jenazah yang berlainan agama; bukan hal baru bila anak-anak muslim terlibat  aktif berkesenian barongsai selepas dari belajar di TPA; juga tidak mengherankan kalau pemuda gereja turut pula membantu penggalangan dana sebuah pembangunan masjid. Kesemuanya berlangsung secara alamiah dan terjadi bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan. Suasana yang dinamis di Kota Salatiga juga ditunjukkan dengan hadirnya lembaga-lembaga keagamaan. Lembaga-lembaga tersebut telah mampu mengembangkan kapasitasnya, bukan saja di bidang keagamaan melainkan juga bergerak di bidang lain, terutama pelayanan publik di bidang pendidikan, bidang ekonomi, dan bidang pemberdayaan masyarakat lainnya.

Hubungan antar agama di Salatiga akan mengalami masa harmoni jika peran elit dapat memberikan ketenangan dan penjelasan secara teologis atau sosiologis kepada umatnya masing-masing secara terbuka dan dialogis. Hubungan ini dapat mengalami ketegangan jika terjadi ketimpangan sosial ekonomi, pendidikan, politik atas kelompok agama dan manajemen politik otonomi daerah yang tidak terkendali secara baik.

Oleh karena itu, masa depan hubungan antaragama di Salatiga memang tergantung pada gerakan keagamaan yang lebih santun dalam berwacana dan beretorika pada publik, dengan mengedepankan masalah-masalah yang riil dihadapi masyarakat ketimbang menghadirkan masalah-masalah yang tampak abstrak, tidak terjangkau sebab disitulah masyarakat agamaniah masih menghendaki agama yang mampu menjawab masalah riil daerah.