Oleh: Dian Arista
Kata radikal seringkali dikaitkan dengan terorisme dan agama Islam. Hampir setiap orang akan membayangkan Islam dan perang saat mendengar kata radikal. Terlebih bagi mereka yang hanya mengetahui Islam dari buku-buku terjemahan ataupun dari google semata. Mereka cenderung menganggap Islam sebagai sesuatu yang berbahaya. Marrik Bellen yang merupakan Director Official of Leiden University mengungkapkan bahwa citra Islam bagi sebagian besar masyarakat Eropa sangatlah buruk. Hal ini dikarenakan media Eropa selalu memberitakan tentang Islam dan peperangan. Pernyataan ini diungkapkan Marrik Bellen saat menjadi salah satu pemateri di acara seminar Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Krapyak, Yogyakarta, 11 Oktober 2018 kemaren.
Berdasarkan pernyataan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa citra Islam selama ini dirusak oleh golongan pecinta perang yang mengatasnamakan Islam. Golongan yang selalu menggunakan dalih Jihad fi Sabilillah sebagai topeng menciptakan kerusuhan. Selain itu, hadiah mati syahid juga menjadi senjata andalan mereka untuk mempengaruhi orang-orang Islam yang masih awwam. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab keributan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Kemudian, yang menjadi pertanyaan, benarkah Jihad fi Sabilillah zaman sekarang harus memakai kekerasan bahkan pembunuhan ? Apakah Jihad fi Sabilillah itu juga harus melukai bahkan membunuh orang non muslim yang tidak mengganggu Islam ? kalau iya, siapakah yang mengajarkan hal tersebut ? itu adalah beberapa pertanyaan yang timbul di pikiran penulis saat mencoba menganalisis keributan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentulah membutuhkan jawaban. Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen L.C, M.A atau yang lebih dikenal dengan Gus Ghofur menjelaskan tentang kisah-kisah Nabi Muhammad SAW yang hidup rukun dengan non muslim. Salah satu pemateri di acara Seminar Hari Santri 2018 yang diadakan Ma’had IAIN Salatiga itu juga mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW,
ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
Artinya : “Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka kalian akan disayangi makhluk yang ada di langit”
Gus Ghofur menjelaskan bahwa kata من dalam hadits tersebut mempunyai makna semua makhluk. Semua makhluk disini berarti segala sesuatu yang ada di bumi, seperti hewan, tumbuhan, dan tentunya juga manusia, baik itu muslim maupun non muslim. Dalam hadits tersebut telah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk saling menyayangi antara satu sama lain. Jikalau seperti itu, siapa yang mengajarkan kekerasan ? jika kelompok radikal tersebut mengaku Islam, bukankah mereka juga harus mengikuti Nabi Muhammad SAW ? Namun, mengapa mereka radikal dan tidak damai ? padahal Nabi Muhammad SAW merupakan pribadi yang sangat mencintai perdamaian.