Perempuan Millenial Aktor Ekonomi Bangsa

Wanita Milenial

Sudah terlalu banyak penelitian yang menyatakan bahwa perempuan bukan sosok yang lemah, tetapi merupakan kekuatan terbesar yang mendorong kemajuan ekonomi dunia.” Sri Mulyani

Era modern telah membawa fenomena baru hampir di seluruh dunia. Fenomena bahwa perempuan berhak melakukan pekerjaan yang sebelumnya hanya dilakukan oleh laki-laki. Konsep tersebut dikenal dengan istilah kesetaraan gender.

Populasi perempuan hampir tiga kali lipat dibandingkan laki-laki, sedangkan fakta sosial mengungkapkan bahwa perempuan mendapatkan kesempatan kerja lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut menyebabkan ketidakseimbangan dalam perekonomian. Menyadari kondisi itu organisasi internasional United Nations menempatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menjadi salah satu point target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030.

Konsep tersebut sepertinya dipahami cukup baik oleh masyarakat Indonesia. Perempuan mendapat kesempatan yang sama dalam berkarir. Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menyatakan bahwa dari 8 juta pelaku ekonomi kreatif, sebesar 55% berjenis kelamin perempuan. Usaha Ekonomi kreatif saat ini menjadi andalan penopang ekonomi bangsa.

Industri ekonomi kreatif membuka kesempatan bagi perempuan untuk percaya diri mengembangkan kemampuan dalam bidang ekonomi. Berbeda dengan sektor lain yang bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, ekonomi kreatif bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia. Karya seni, arsitektur, buku, fashion, kuliner, inovasi teknologi dan animasi berasal dari ide kreatif pemikiran manusia. Perempuan memiliki rasa dan daya kreatif yang bagus, oleh karena itu melalui ekonomi keatif perempuan mendapatkan kesempatan lebih besar untuk menggerakkan ekonomi bangsa.

Contoh sederhana pemberdayaan perempuan berbasis ekonomi kreatif diterapkan di Karanggede Boyolali, Jawa Tengah. Diinisiasi oleh Titik Murdianasari (Nana), perkumpulan Ibu-Ibu muslimat memproduksi kerajinan bunga dari barang bekas. Selain memiliki tujuan untuk peduli dengan lingkungan, komunitas yang disebut florest ini berupaya menjadikan sampah agar bernilai rupiah.

Nana sebagai penggagas komunitas ini awalnya berfikir bagaimana cara memanfaatkan sampah seperti plastik dan botol yang sangat susah terurai. Kemudian muncul ide untuk menggunakannya sebagai bahan membuat kerajinan tangan. Bermodal kreatifitas yang dimilikinya, Nana menularkan ilmunya kepada perkumpulan Ibu-Ibu muslimat di kampungnya. Sehingga di samping sebagai ibu rumah tangga, Nana berhasil mengubah maindset warga sekitar untuk ikut serta membangun ekonomi keluarga.

 Penerapan ekonomi kreatif oleh perempuan memiliki potensi yang cukup besar bagi laju perekonomian negara. Selain memiliki kreatifitas tinggi, banyaknya populasi perempuan seharusnya dapat mendongkrak jumlah pengusaha ekonomi kreatif. Jika semakin banyak perempuan yang mulai menekuni industri kreatif, semakin banyak keluarga yang mendapat tambahan penghasilan. Dari hal yang kecil lambat laun akan tumbuh menjadi besar. Semakin cepat pertumbuhan ekonomi dari sektor yang terkecil, kemudian akan mempengaruhi sektor global yaitu perputaran roda ekonomi negara yang akan semakin cepat. (Oleh : Diah Fitri)