Harmoni Di Kota Toleransi

Oleh : Firdan Fadlan Sidik

“Aku beragama dan cinta agama yang kuanut. Aku bertanggungjawab untuk menjaganya. Tapi menjaga perdamaian umat manusia lebih dari sekadar menjaga agama.”

 Fenomena radikalisme agama yang muncul dalam dekade terakhir ini mengusik ketenangan kehidupan beragama. Sebut saja aksi bom Surabaya pada Mei 2018 lalu. Dalam keheningan kota Surabaya, bom mendarat di beberapa titik kota dan gereja dengan tanpa alasan yang jelas. Isu-isu terorisme dan radikalisme agama ini hadir di tengah keberagaman umat manusia yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda.

Potret ketidakharmonisan beragama seharusnya bergejolak di kota Salatiga. Pasalnya keragaman kehidupan beragama di kota ini berpotensi untuk memunculkan perpecahan dan konflik. Namun Salatiga berhasil mengelola perbedaan ini menjadi sebuah pola kehidupan masyarakat yang harmoni. Sebagaimana juga diutarakan oleh Cak Nun ketika menggelar Ngaji Bareng di kampus IAIN Salatiga pada Agustus 2018 lalu, bahwa Salatiga adalah miniatur Kota Madinah. Cak Nun mengisahkan bahwa Madinah adalah potret kota plural yang patut menjadi contoh. Dan Nabi Muhammad adalah sosok pahlawan pluralisme yang berjasa menyatukan keberagaman bangsa Arab.

Perbedaan adalah fitrah kehidupan yang telah digariskan Allah kepada umat manusia. Perbedaan bukanlah bertujuan untuk memecah belah umat manusia menjadi beberapa golongan, lalu saling bermusuhan, terjadi konflik atau perkelahian yang tak berkesudahan. Melalui ayat-ayat-Nya, Allah menyampaikan pesan kepada umat manusia untuk saling mengenal satu sama lain. Jika Allah pun menciptakan dan mengkehendaki umat manusia untuk berbeda, maka tidak sepantasnya jika manusia memaksakan kehendak orang lain untuk menjadi sama dengannya. Kita harus meyakini dan menghargai keragaman yang telah digariskan Allah.

Salatiga, sebuah kota yang dinobatkan oleh SETARA Institut sebagai kota toleransi nomor 3 di Indonesia setelah Manado dan Pematangsiantar ini memiliki corak keberagaman yang unik. Salatiga dikatakan sebagai “Indonesia mini” karena di dalamnya terdapat 30 etnis masyarakat yang hidup dalam 4 kecamatan. Kehidupan bertoleransi menjadi sebuah asupan makanan wajib bagi masyarakat Salatiga. Umat kristen sudah terbiasa terbangunkan dengan suara adzan subuh dari masjid. Begitupun umat Muslim yang terbiasa bermuamalah dengan umat Kristen. Hal ini akan membentuk corak kehidupan yang berbeda dari kota-kota lain.

Kota ini memiliki dua buah institusi besar yang bernapaskan keagamaan, yaitu Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Institut Agama Islam negeri (IAIN) Salatiga. Dari dua kampus ini pulalah lahir sebuah inisiatif-inisiatif gerakan perdamaian yang disuarakan oleh mahasiswa. Salah satunya adalah berdirinya komunitas YIPC (Youth Interfaith Peacemaker Community), sebuah komunitas yang menjadi wadah pemuda-pemudi Muslim dan Kristen untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui diskusi ilmiah keagamaan dan kegiatan-kegiatan kerohanian.

Komunitas ini mewadahi para pemuda-pemudi dari berbagai macam suku dan agama untuk mempelajari nilai-nilai perdamaian melalui telaah pemahaman kitab suci Al-Qur’an dan Injil. Di dalamnya sering diadakan kajian diskusi ilmiah dan dialog sehingga dapat memberikan kepahaman antara satu dengan yg lainnya. Cara ini dipandang sebagai solusi yang paling jitu untuk menjawab prasangka yang menjalar di dalam hati dan pikiran. Jika sudah memahami perbedaan masing-masing, maka timbullah penerimaan diri sehingga setiap individu akan fokus terhadap perkembangan dirinya dan menjauhkan diri dari permasalahan-permasalahan dengan golongan  yang berbeda. Akan ada energi positif yang bersifat instruktif jika kita memahami nilai-nilai perdamaian.