Oleh : Donly Deriel
Tidak ada sejarah mula-mula mengapa sampai kita, manusia, saling memberi ucapan selamat dalam segala situasi. Tidak tahu siapa yang memulai tradisi ini pertama kali, akan tetapi dari sejak jaman dahulu kala, tradisi memberikan ucapan selamat sudah ada dan dimaksudkan untuk memberikan perhatian terhadap orang yang kepadanya kita beri ucapan selamat. Sebagai contoh ketika kita memberi ucapan selamat terhadap teman yang sedang berulang tahun, ya tujuannya supaya ada perhatian yang kita perlihatkan dan bersama-sama kita bisa merayakan dan mengucapkan syukur atas semua rejeki yang diterimanya. Dan masih banyak contoh lain.
Jadi pada dasarnya, saling memberi ucapan selamat bisa bermakna sosial, dimana kita sebagai manusia ciptaan Tuhan memiliki beban sosial atau tanggung jawab sosial yang sama, yaitu untuk saling menjaga dan memperhatikan.
Namun bagaimana dengan teman-teman yang beranggapan bahwa memberi ucapan selamat adalah sesuatu yang salah, apalagi jika berkaitan dengan ajaran agama.
Saya sudah membuka beberapa literatur atau tulisan, sudah mencoba untuk browsing juga untuk menjadi bahan materi tulisan ini, akan tetapi tidak satupun saya temukan mengenai larangan yang pasti dari ajaran semua agama mengenai larangan untuk memberi ucapan selamat terhadap orang lain. Ada ketakutan jika memberikan ucapan selamat maka akan merusak keyakinan dan menjadi sama seperti orang lain. Benarkah? Anda memberikan selamat ulang tahun kepada rekan anda, apakah anda menjadi rekan anda yang berhari ulang tahun itu? Atau anda memberikan selamat kepada rekan anda yang mendapatkan kenaikan jabatan, apakah anda menjadi rekan anda yang mendapatkan kenaikan jabatan itu? Tidak, anda tetaplah anda, tidak ada ucapan selamat yang bisa merusak siapa anda sebenarnya.
Atau yang kemarin lagi hangat-hangatnya dibahas, mengenai memberikan selamat hari natal bagi saudara-saudara Nasrani yang merayakan, apakah dengan memberikan selamat kemudian anda menjadi sama seperti mereka? Atau juga dengan pemeluk agama Nasrani yang memberi ucapan selamat Idul fitri, umat Budha, umat Hindu, yang juga saling memberikan ucapan selamat untuk masing-masing hari besar keagamaan. Pertanyaannya, apakah jika kita tidak saling memberikan ucapan selamat kemudian sebuah perayaan menjadi batal atau tidak menjadi meriah dan menggembirakan bagi mereka yang merayakan?
Memberikan ucapan selamat sejatinya bukan berarti bahwa kita ikut menjadi seperti orang lain. Itu adalah bukti moral bahwa kita saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya. Sebuah perayaan akan tetap menjadi perayaan, dan menggembirakan bagi mereka yang merayakannya meskipun tidak ada ucapan selamat dari orang lain. Tapi sobat, Bayangkan dunia tanpa ada ucapan selamat, akan seperti apa rasanya? Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri, saling menatap sinis ketika orang lain sedang merayakan kebahagiaannya sendiri, tidak ada rekan untuk berbagi sukacita, tidak ada kerabat yang bisa diajak tertawa, semuanya sibuk dengan keegoisannya sendiri.
Secara luas, memberi ucapan selamat juga merupakan bukti toleransi sosial dengan sesama. Saling menghormati dan mengharga. Ikut merasakan sukacita dan kebahagiaan. Jika itu yang terjadi maka kita sedang hidup di dunia yang indah dan nyeman bagi semua orang. Semoga masih ada orang baik di negara ini yang memahami ilmu yang didapatnya dengan baik, tanpa harus membuat orang lain merasa tersinggung atau terhina.