Injil Barnabas Dalam Dialog Teologis Kristen-Islam

Oleh Dr. Bambang Noorsena. Makalah ini yang dipresentasikan dalam Seminar “Problematika Injil Barnabas” yang diselenggarakan Yayasan “Hidayah Bangsa” di IAIN Salatiga, 28 November 2019.

  1. CATATAN PENGANTAR

Minat sebagian orang terhadap Injil Barnabas, menarik untuk dikaji. Cukup besar minat itu, sampai Prof. Anwar Musaddad menggolongkannya mendekati hadits, sekalipun dalam kategori daif. Untungnya, tidak semua orang silau terhadap kehadiran buku ini. Prof. Drs. K.H. Hasbullah Bakry, misalnya, memustahilkan buku ini berasal dari murid-murid Isa Al-Masih, sebab “Injil” ini ditulis dalam bahasa Italia, sedangkan pada zaman Yesus bahasa-bahasa yang dipakai adalah Ibrani, Aramaik, Yunani atau minimal bahasa Latin sebagai bahasa adminstrasi kekaisaran Roma saat itu.

Bahasa Italia ialah bentuk modern dari bahasa Latin, yang baru menjadi bahasa tulis sejak abad XV, karena itu tidak mungkin berasal dari zaman Yesus. Pada abad pertama bahasa Yunani Koine adalah bahasa internasional, sehingga keempat Injil kanonik, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, semua telah ditulis pada abad pertama. Pemakaian publikasi palsu ini dalam dialog teologis Kristen-Islam, merusak semangat dialog yang jujur. Karena itu,  Abbas Mahmoud Al Aqqad, sastrawan Mesir yang terkenal, dalam bukunya “Ḥayāt al-Masīh fī al-Tārīkh wa al-Kusyûf al-‘ashr al-Ḥadīts” (1954), menyarankan agar umat Islam di dunia membuang jauh-jauh publikasi palsu ini.

  1. NASKAH ‘INJIL” BARNABAS

2.1. Melacak Barnabas Historis: Kesaksian Perjanjian Baru dan Synaxarion Kuno

St. Barnabas lahir di Salamis, Cyprus, dengan nama asli Yusuf (Ibrani: יוֹסֵף “Yosef”, Yunani: Ιὠσης, “Iōsēs”), tidak termasuk 12 rasul Kristus, tetapi salah seorang dari 70 murid-Nya. Setelah Barnabas menjual hartanya dan menyerahkan hasilnya kepada para rasul di Yerusalem (Kis. 4:6-47), Yusuf diberi nama baru dalam bahasa Aramaik ܒ݁ܰܪܢܰܒ݂ܰܐ  “Bar Naba” (ejaan Yunani: Βαρνάβας, “Barnabas”), yang artinya:  ܒ݁ܪܳܐ ܕ݁ܒ݂ܽܘܝܳܐܳܐ “Brā d’Bûya-a”, υἱός παρακλήσεως, “Huios Paraklēseōs”, anak penghiburan (Kis. 4:47). Sebagai anggota 70 murid, St. Barnabas menjamin kepada ke-12 rasul, bahwa pertobatan St. Paulus adalah benar, dan karena itu diterima dan diakui sebagai rasul juga di Yerusalem (Gal. 2:9).

Setelah pertobatannya, bersama St. Paulus, St. Barnabas  mewartakan Injil kepada kaum non-Yahudi. Yohanes yang disebut Markus, keponakannya, ikut bergabung dalam misi ke ke Siprus (Kis. 12:25). Dari Siprus mereka melanjutkan perjalanan misi Pisidia, Ikonium, Listra,  Derbe hingga kembali ke Antiokhia. Di Antiokhia, terjadi keributan karena ada umat Kristen-Yahudi yang memaksakan kewajiban sunat kepada umat Kristen non-Yahudi. Sikap St. Barnabas sama dengan St. Paulus yang menolak penerapan sunat kepada umat non-Yahudi Jadi, kalaupun pernah ada perselisihan antara keduanya, sama sekali bukanlah soal teologis, melainkan hanya soal teknis (Kis. 15:35-41).

Ketika mereka hendak melakukan perjalanan misi untuk kedua kali, St. Barnabas bersikeras ingin membawa St. Markus, namun St. Paulus menolaknya, karena  menganggap Markus tidak setia. Meskipun berbeda dalam soal teknis, hubungan keduanya tetap baik (Gal. 2:9; 2 Tim. 4:11). Mereka berdua berpisah, St. Paulus pergi dengan Silas, dan Barnabas disertai Markus berangkat ke Siprus (Kis. 15:39). Kisah selanjutnya yang tidak tercatat dalam Alkitab dijumpai dalam literatur gereja -gereja kuno, antara lain dalam Synaxarion Koptik, yang mencatat kemartiran St  Barnabas pada tahu 61 M, di Salamis, Cyprus, tanggal 21 Khyak, atau dirayakan di gereja-gereja Barat tanggal 11 Juni.

2.2. “Injil” Barnabas dalam Dexretum Pseudo-Gelasianum?

Harus dicatat pula, bahwa jauh setelah ditulisnya keempat Injil yang termaktub dalam Perjanjian Baru, beredar juga beragam buku yang juga diberi judul “Injil”, “Kisah”, dan “Wahyu”, misalnya Injil Yakobus, Injil Tomas, Injil Petrus, Injil masa Kanak-kanak Yesus, Kisah Yohanes, Wahyu Petrus, dan sebagainya. Kitab-kitab PB ditulis paling akhir tahun 90 M dan paling awal tahun 45 M, hanya sekitar 20 tahun setelah kenaikan Yesus ke surga pada tahun 33 M. Sedangkan kitab-kitab yang ditolak gereja dan disebut apokrif, paling awal ditulis sekitar tahun 160 M, yaitu Injil Yakobus, dan masih terus ditulis sampai di atas tahun 500-an.

Jadi, tidak seperti yang sering diisukan orang bahwa gereja pernah membakar kitab-kitab, kumpulan buku-buku apokrif ini masih dapat dibaca dan mudah diakses sampai hari ini, antara lain bisa dibaca dari ‘Abd al-Masīh Basīth al-Khair (ed.), Abûkrīfa Al-‘Ahd al-Jadīd. Kaifa Kutiba? Wa Limadzā rafadhatuhā al-Kanīsah? (Cairo, 2007). Diantara puluhan buku-buku apokrifa itu, tidak ada buku yang berjudul Injil Barnabas. Pernah hilanglah? Tidak juga. Sebab pernah ada buku yang hilang, yaitu Injil Ibrani, tetapi kutipannya tersebar dalam sejumlah naskah lain yang sezaman atau tak jauh sesudahnya.

Untuk pertama kali sebutan Injil Barnabas ada dalam dokumen yang berjudul Dekrit Pseudo-Gelasius I (Latin: “Decretum Pseudo-Gelasianum), termasuk salah satu dari 60 naskah yang dinyatakan apokrifa oleh Paus Gelasius I (w. 496). Daftar yang memuat buku-buku apokrif ini berasal dari abad VI, tidak berasal dari Paus Gelasius I, karena itu disebut “pseudo” (tidak asli). Namun, tidak satupun naskah kuno yang mengutip isi “Injil Barnabas”, sekalipun satu ayat. Satu-satunya kemungkinan, daftar ini akibat salah sebut  buku lain yang juga ditulis dengan nama Barnabas. Ada 2 buku yang memakai nama Barnabas, yaitu Epistle of Barnabas (sekitar 100 M) dan Acts of Barnabas (abad V M). Karena Epistle of Barnabas sudah masuk urutan ke-18 dari 60 “buku-buku terlarang” itu, maka Injil Barnabas pada urutan ke-24 pasti “salah sebut” dari Acts of Barnabas yang absen dalam Decretum Pseudo-Gelasianum (M.R. James, The Appocryphal New Testament Oxford: The Clarendon Press, 1955, hlm. 23).

2.3. Sejarah Naskah “Injil” Barnabas

Dari antara kisah-kisah yang beredar di gereja kuno, ada ungkapan yang dapat disebut semacam “Ipssisima fox Barnabas” (kata-kata asli Barnabas). “Dalam pertikaian yang buruk”, kata St. Barnabas, “maka pihak yang menang yang paling menderita, sebab ia meninggalkan pertempuran dengan beban dosa yang lebih besar.” Namun ungkapan itu tidak berasal dari sebuah “‘injil” Barnabas, melainkan tradisi suci yang dipertahankan dari generasi ke generasi. Lagi pula, sabda ini juga tidak tertulis dalam Injil Barnabas yang “viral” sejak abad pertengahan itu. “Injil” Barnabas pertama disebut dalam buku Bernard de La Monnoi, Managiana, Vol. IV, yang terbit di Paris, 1715.

Selanjutnya, pada tahun 1718 terbit buku John Toland, “Nazarenus or Jewish, Gentile and Mohamedan Christianity”, yang menyebutkan sekilas penemuan buku ini di Amsterdam, seraya menyebut “It is a Mohamedan Gospel never before publicly Made now among Christians” (Bambang Noorsena, Telaah kritis Injil Barnabas Yogyakarta: Yayasan Andi, 1990:8). Baru George Sale, dalam “Terjemahan Qur’an”-nya yang terbit tahun 1734, memuat panjang lebar “kabar burung” pencuriaan naskah Injil Barnabas oleh Fra Marino dari Perpustakaan Paus Sixtus V (1585-1590 M), yang dikutipnya dari naskah Injil Barnabas bahasa Spanyol yang diterjemahkan oleh Mustafa de Arande (yang kemungkinan besar adalah Fra Marino sendiri).

Sejak naskah Injil Barnabas dipindahkan ke perpustakaan Viena tahun 1738, para ahli mulai mengakses lebih luas. Lebih-lebih, setelah terbit terjemahannya dalam bahasa Inggris berdampingan dengan bahasa aslinya, Italia, oleh Lonsdale dan Laura Ragg, The Gospel of Barnabas. Edited and Translated from the Italian MS in the Imperial Library at Vienna (Oxford: At Clarendon Press, 1907). Setahun kemudian, terbit terjemahannya dalam bahasa Arab oleh Dr. Khalil Sa’adah, seorang intelektual dari Gereja Ortodoks Koptik, Injīl Barnābā. Di kemudian hari, setelah kematian Khalîl Sa’adah, penerbitan buku ini dilanjutkan oleh Majalah al-Manar, asuhan Rasyid Ridha,  murid Syeikh Muhammad ‘Abduh, pembaru Islam yang terkenal itu.

2.4. “Epistle of Barnabas” dan “Acts of Barnabas”

Informasi dokumen tentang “kitab-kitab terlarang” dalam Dekrit Pseudo-Gelasian tersebut, juga tidak masuk akal. Mengapa? Karena sejak zaman rasuli, gereja sangat menghormati “Epistle of Barnabas”. Karena sekalipun kitab ini tidak termasuk kanon Kitab Suci, tetapi termasuk literatur penting Bapa-bapa Rasuli/Apostolic Fathers (Arab: الآباء الرسوليون “al-Abā’ al-Rasûliyyûn”), yaitu tulisan-tulisan dari zaman murid-murid para rasul sendiri. Karena itu, Epistle of Brnabaa ini dimasukkan satu jilid dengan *Codex Sinaiticus” (350 M). Dan yang lebih penting lagi, dokumen kuno ini justru bertolak belakang dengan isi “Injil” Barnabas. Misalnya, penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang menyatakan diri, dan nasehat agar orang Kristen tidak lagi jatuh kepada hukum-hukum Yahudi yang bersifat legalistik.

Sedangkan buku yang berjudul “Acts of Barnabas”, kita membaca: “Sesudah mengabarkan Injil yang diterimanya dari kawan sepelayanannya Matius, Barnabas mulai mengajarkan kepada orang-orang Yahudi”. Menurut kisah yang muncul pada  masa belakangan, uskup-uskup Siprus telah menemukan kembali jenazah St. Barnabas dengan Injil Matius yang disalinnya dan diletakkan di atas dadanya”. Husein Abubakar dan Abubakar Basjmeleh dalam “Terjemah Injil Barnabas” (1970), mengutip kisah penemuan mayat Barnabas, namun dengan menghapus nama Matius: “…pada tahun keempat maharaja Zeno (478 M) dan satu salinan injilnya yang ditulis dengan tangannya sendiri ditemukan di atas dadanya”. Jadi, dengan menuturkan kisah tersebut tanpa menyebut nama Matius, kesannya seakan-akan Barnabas sendiri menulis sebuah Injil.

  1. TELAAH KRITIS INJIL BARNABAS

3.1. Telaah kritis Naskah “Injil” Barnabas

Dengan  melakukan telaah kritis atas naskah “Injil” Barnabas, akan ditemukan kesimpulan bahwa buku ini hasil karya dari abad pertengahan, antara lain dibuktikan dari fakta sebagai berikut:

Dalam judul tertulis “Vero Evangelio di Iessu Nazareto chiammato chrissto” (Injil yang benar dari Yesus Nazaret yang disebut Kristus”, namun pada pasal 96 disebutkan: “Viue Dio alla chui pressenza sta la anima mia Che io non son il Messia” (Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman tangan-Nya, Aku bukanlah Mesiah). Jadi, penulis tidak mengetahui bahwa kata Χριστος “Khristos” (Kristus) adalah terjemahan Yunani dari kata Ibrani הַמָּשִׁיחַ “Ha-Masiah”, yang artinya sama “Yang Diurapi”. Karena itu, tidak mungkin “Injil” ini ditulis oleh orang Yahudi abad pertama, apalagi oleh Rasul Barnabas.

Kesalahan historis yang cukup fatal, antara lain Pasal 3  yang mencatat bahwa Yesus dilahirkan pada waktu Pontius Pilatus memerintah atas Yudea, padahal Pilatus baru menjadi gubernur pada tahun 29 M ketika Yesus berusia 30 tahun. Juga kesalahan geografis yang tidak mungkin dilakukan oleh orang Israel pada abad pertama, Pasal 20 mengisahkan bahwa Yesus “berlayar” ke Nazaret, suatu yang mustahil sebab Nazaret tidak dapat dicapai dengan perahu. Selanjutnya, dari Nasaret “Yesus naik ke Kapernaum” (Ascete Iessu in Chafarnau). Kapernaum adalah kota pesisir di danau Galilea, dari Nasaret mestinya “turun ke Kapernaum” (Pasal 21 “Injil” Barnabas).

Masih banyak lagi kejanggalan yang membuktikan “Injil” ini tak mungkin ditulis di Palestina pada abad pertama. Misalnya, dikemukakan bahwa di wilayah Yudea ada 600.000 tentara (Pasal 91), padahal jumlah tentara di seluruh jajahan Roma waktu itu tidak lebih dari 300.000 orang. Tetapi yang lebih penting, isi “Injil” Barnabas sendiri bersaksi tentang asal-usulnya sendiri dari abad pertengahan. Disebutnya tong-tong kayu berisi arak (Pasal 152) jelas-jelas menunjuk Eropa abad pertengahan, sebab zaman Yesus alat penyimpan anggur adalah guci-guci yang terbuat dari tanah liat (Yoh. 2:6-7).

Juga, gambaran bahwa orang bisa memiliki kota dalam kisah Marta, Maria Magdalena dan Lazarus (Pasal 194), hanya mungkin terjadi setelah munculnya era kapitalisme di Eropa. “Injil”Barnabas juga menampilkan kisah Yesus bukan dengan latar belakang Yahudi abad pertama, melainkan lebih menggambarkan ajaran dan liturgi gereja Katolik Roma abad pertengahan. Misalnya, dalam 91-92 digambarkan Yesus dan para murid-Nya “memelihara” puasa 40 hari seolah-olah sudah dikanonisasikan zaman Yesus. Padahal meskipun Yesus berpuasa 40 hari (Matius 4:2), namun penetapan masa puasa 40 hari (Quadragesima) baru terjadi pada masa-masa belakangan. Selanjutnya, doa malam dengan mengutip 1 Petrus 5:8 yang ditempatkan di mulut Yesus “…Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (Pasal 61) adalah praktek “Brevir” (Liturgia Horanum) Roma Katolik sejak abad XV M,

3.2. Situasi Abad Pertengahan: Kisah Sesungguhnya di Balik Layar

Dari gambaran abad pertengahan, ternyata masih bisa dilacak lebih khusus lagi untuk menerapkan kapan waktu penulisan “Injil” Barnabas. Pasal 82-83 mengisahkan sabda Yesus tentang tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun. Padahal dalam Kitab Taurat, Imamat 25:8-55 dan 27:16-25, tahun Yobel dirayakan setiap 50 tahun. Dan Yesus tidak pernah mengubah aturan Taurat ini. Baru pada tahun 1300 M Paus Bonifacius VIII menetapkan tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun. Tetapi Paus Clemens VI pada tahun 1343 mengembalikannya menjadi 50 tahun. Penulis “Injil” Barnabas mendasarkan tulisannya tentang ketentuan masa 100 tahun untuk merayakan Yobel, dan  tidak disadarinya dinyatakan seolah-olah Yesus sendiri yang telah menetapkan Yobel harus dirayakan setiap 100 tahun. Karena itu, bisa kita pastikan “masa terdini” (Terminus per quem) penulisan “Injil” Barnabas adalah  tahun 1300 M.

Bahkan sangat besar kemungkinan “injil” Barnabas ditulis pada zaman Paus Sixtus V (1585-1590). Patut dicatat, sejak tahun 1300 tahun Yobel selalu diubah-ubah. Setelah tahun 1349 dikembalikan menjadi  50 tahun, pada  tahun 1470 diubah lagi menjadi 25 tahun. Nah, pada tahun 1585 Paus Sixtus V merayakan tahun Yobel, bukannya karena sudah tiba waktunya, melainkan karena pada tahun itu Sixtus terpilih menjadi Sri Paus dan ingin memberikan perhatian khusus kepada tahun itu. Rupanya, kejadian ini menjadi alasan bagi penulis “Injil” Barnabas, yang tidak lain adalah Fra Marino sendiri,  yang masih ingat bahwa sesudah 1300 tahun Yobel dirayakan 100 tahun sekali, untuk menyatakan pada masa Mesias (yang ditafsirkannya Nabi Muhammad) akan dirayakan pada tiap-tiap tahun.

Kesimpulan bahwa Fra Marino dan Mustafa de Arande adalah orang yang sama, dan orang ini yang menyusun “Injil” Barnabas juga didukung bukti pemakaian bahasa Itali yang jelas dipengaruhi bahasa Spanyol, seperti penulisan “Ano” menjadi “Hano”, “Chrissto” dengan aksara dobel “s”, dan catatan-catatan pinggir dalam naskah Itali yang jelas-jelas ditulis oleh pemakai bahasa Itali dialek Spanyol. Bahkan, yang membuat orang tertawa terpingkal-pingkal bagaimana mungkin Yesus menyebut pembagian mata uang Spanyol: “Barangsiapa menukar satu Demarius akan mendapat 60 minuti’ (Pasal 54). Ini sama dengan anda berbicara mata uang USD Dollar pada zaman kerajaan Majapahit.

  1. CATATAN PENUTUP

Menerima fakta bahwa “Injil ” Barnabas ini adalah buku palsu, memang tidak mudah bagi yang terlanjur meyakininya, Husein Abubakar dan Abubakar Basjmeleh, misalnya, membela “Injil” ini mengenai tahun Yobel yang diperingati 100 tahun sekali. “Mungkin”, kata mereka, “karena dalam naskah Italia 50 ditulis dengan huruf L yang mudah terukar dengan C yang artinya memang seratus  (Basjemeleh, 1970:257). Padahal dalam teks asli tertulis CENTO, yang artinya seratus: “…il iubileo ogui hano che hora uiene ogni cento hanni” (Tahun Yobel akan diperingati setiap tahun yang kini jatuh setiap seratus tahun sekali). (Lonsdale dan Laura Ragg, 1907:192-193).

Banyak orang Muslim begitu silaunya terhadap kehadiran buku ini, sampai-sampai sikap apologetik yang kelewatan itu melupakan bahwa ternyata “injil” Barnabas tidak hanya berbeda dengan Injil-injil kanonik Perjanjian Baru, tetapi juga bertentangan dengan isi al-Qur’an sendiri. Misalnya, penegasan bahwa Muhammad adalah Mesias (Pasal 96), jelas bertentangan dengan al-Qur’an sendiri yang justru menegaskan bahwa Al-Masih adalah Isa Putra Maryam (Q.s. 4/An-Nisa’ 171: إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ “Inama al-masīḥ ‘īsa bnu maryama”), terlepas dari soal bagaimana Islam dan Kristen memakai gelar yang sama. Demikian juga gambaran “Injil” Barnabas tentang gambaran langit bertingkat sembilan dimana tingkat sepuluhnya adalah surga (Pasal 52, 57, 59 dan 178), yang ternyata ini berasal dari penyair Dante, juga berbeda dengan kosmologi Alkitab Yahudi-Kristen dan juga Al-Qur’an sendiri.

Salatiga, 28 Nopember 2019