Oleh : Mansurni Abadi
Banyak orang yang salah memahami kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam hal jihad. Mereka mengira bahwa Sang Nabi SAW itu suka berperang dan membunuh. Hal ini berimbas pada agama Islam. Beberapa abad setelah Nabi Muhammad wafat, ajaran Islam yang mengajarkan perdamaian akhirnya menjadi tercoreng dengan tafsir- tafsir ekstrim yang mengarah pada radikalisme.
Timbulnya tafsir radikal tentang jihad sangatlah ahistoris dan penuh tuduhan yang tak bernalar. Al-Qur’an sebenarnya tidak menutupi esensi jihad ala Nabi Muhammad SAW yang jauh dari kesan penaklukan dan penindasan. Namun, penafsiran salah dari sekelompok orang membuat orang lain berpikiran bahwa Islam adalah agama yang keras dan suka peperangan.
Kisah Nabi Muhammad dalam hal jihad kurang lebih sama dengan kisah Sri Krishna dalam kitab Mahabarata saat terjadi perang Baratayudha. Keduanya berada di medan perang, tetapi tak satupun darah manusia yang tertumpah dari tangan mereka berdua. Tiada satupun manusia dari kalangan Kurawa yang tertumpah akibat senjata cakra dari Sri Krishna; dan tiada satupun manusia dari kalangan Quraisy yang tertumpah akibat senjata pedang dari Sang Nabi SAW.
Sang Krishna berperang didampingi muridnya, yakni Arjuna; dialah yang membasmi adharma ( pihak yang jahat ) di medan perang dengan senjatanya. Begitu juga Sang Nabi SAW berperang didampingi murid dan sahabatnya, yakni Ali bin Abi Thalib; dialah yang membasmi adharma di medan perang dengan senjatanya.
Selain seperti Krishna, Nabi Muhammad SAW juga seperti Sang Kristus dalam hal perang, keduanya memerintahkan sahabat-sahabatnya membawa pedang untuk jihad defensif. Yaitu jihad yang bertujuan mempertahankan diri dari serangan musuh.
Kisah yang menarik terkait jihad defensif dalam Injil terjadi di taman Getsemani. Disana murid-murid Sang Kristus melawan serdadu Romawi dengan pedang yang terhunus di tangannya dan memotong telinga seorang di antara mereka. Lalu reaksi Sang Kristus memerintahkan murid-muridnya untuk mundur dan mengobati tentara yang putus telinganya itu.
Dari ketiga kisah jihad tersebut, terdapat pesan penting yang bisa diambil. Yaitu bahwa sejatinya semua agama di dunia ini mengajarkan perdamaian. Tidak ada agama yang memerintahkan untuk melukai apalagi membunuh orang lain tanpa sebab yang jelas.
Untuk itu, kita sebagai umat beragama haruslah hidup rukun dengan sesama dan saling menghargai berbagai perbedaan yang ada. Tidak perlu mencari perbedaan dari berbagai agama, karena itu pasti ada. Namun, kita harus mencari persamaan positif darinya, karena hal itu akan membuat kita bahagia hidup rukun diantara berbagai keragaman yang ada.