Kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari hubungan timbal balik terhadap apa yang manusia lakukan. Diantaranya, ilmu pengetahuan yang merujuk pada praktek, keyakianan sebagai pondasi agama, dan sikap mendidik sebagai salah satu implementasi dari manusia sosial untuk saling menghargai satu sama lain.
Manusia diberi gelar homo educabile, dimana ia memiliki kemampuan untuk mendidik manusia lain. Namun, mendidik bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak rintangan yang menghiasinya. Mulai dari rasa tidak percaya diri, sampai respon kurang baik dari orang yang kita didik.
Dalam mendidik orang lain untuk bisa menyesuaikan apa yang kita inginkan, perlu adanya rencana yang harus dikaitkan. Dibutuhkan strategi khusus untuk bisa mendidik dengan cara yang baik dan tidak mengandung unsur pemaksaan. Termasuk juga dalam pendidikan perdamaian.
Pendidikan perdamaian dalam hal ini didasarkan pada filosofi yang mengajarkan anti-kekerasan, cinta dan kasih sayang, kepercayaan, keadilan, kerjasama, dan menghormati seluruh kehidupan di bumi. Filosofi ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah hal yang sangat penting di dunia.
Dalam skema UNESCO (United National Education, Scientific and Cultural Organization), nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan perdamaian ada lima. Pertama, menganjurkan pendidikan untuk perdamaian, hak asasi manusia, demokrasi, toleransi dan pengertian antar bangsa. Kedua, membela dan menghormati hak asasi manusia tanpa terkecuali, dan melawan semua bentuk diskriminasi. Ketiga memajukan prinsip-prinsip demokrasi pada semua tingakatan masyarakat. Keempat, melawan kemiskinan dan menjamin pembangunan endogen dan berlanjut untuk kebaikan semua manusia. Kelima, melindungi dan menghormati lingkungan.
Nilai pertama yang terkandung dalam kebudayaan perdamaian UNESCO adalah menganjurkan pendidikan untuk perdamaian. Hal ini menunjukkan bahwa perdamaian itu bisa tercipta dengan berbagai cara, salah satunya pendidikan. Baik itu formal maupun non formal. Pendidikan non formal terkadang diperoleh secara tidak sadar saat hidup bersama masyarakat.
Dalam hidup bermasyarakat, sejatinya kita telah belajar banyak hal yang berkaitan dengan perdamaian. Diantaranya, belajar hidup bersama, memahami orang lain, serta belajar saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan.
Pendidikan perdamaian pertama yaitu belajar untuk hidup bersama. Manusia sebagai makhluk sosial pastilah membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan. Hal ini memaksa setiap orang untuk menahan keinginannya yang bertentangan dengan kebebasan orang lain. Karena kerukunan hidup bersama orang lain dapat dicapai dengan adanya rasa saling memahami.
Selain memahami, kita juga harus saling membantu dalam hal yang positif. Ketika orang bekerjasama untuk saling bahu-membahu, gotong royong demi terciptanya tujuan bersama, maka perbedaan yang ada tidak akan pernah terasa. Yang ada hanyalah pikiran positif dan hubungan harmonis antar sesama manusia.
Untuk itu, kita sebagai makhluk berakal haruslah menjadi agen perdamaian, bukan pemicu kerusuhan. Menjadi agen perdamaian dapat dimulai dengan hal kecil. Salah satunya yaitu menciptakan pendidikan perdamaian di lingkungan sekitar. Jika hal kecil tersebut dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, maka pastilah negara ini akan selalu menjadi negara yang tenteram dan sejahtera.