Sering kita membahas tentang krisis dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia sendiri krisis yang saat ini menjadi perbincangan masyarakat adalah krisis ekonomi, energi, teknologi, air, bahkan pangan. Kesemuanya ternyata tidak menjadi permasalahan serius. Krisis di dunia yang terbesar adalah krisi keteladanan.
Kehadiran krisis keteladanan menandakan pemimpin yang belum mempunyai kompeten dan visioner. Efeknya, masalah pendidikan, air, kesehatan hingga sistem peradilan yang semaikn memburuk.
Realita kehidupan menunjukkan bahwa semakin hari pendidikan masih mengalami penurunan. Setiap orang tentu butuh asupan ilmu sebagai bekal menjalani hidup yang lebih baik. Melalui pendidikan kita bisa mengetahui banyak hal dari mulai yang tadinya tidak tahu hingga menjadi mengerti. Tadinya belum bisa hingga menjadi mahir dan seterusnya.
Tidak cukup sampai disitu, dengan pendidikan ternyata juga dapat mempengaruhi masa depan setiap individual. Hal ini dapat kita jumpai dilingkungan sekitar, orang yang ingin menjadi pegawai negeri, bupati, hingga menteri tentu menggunakan tolak ukur akankah mampu menjalankan tugasnya. Nah, melalui pendidikanlah orang tersebut dapat dikatan sanggup atau tidak.
Sebenarnya pendidikan saja tidak mencukupi. Pintar memang penting, akan tetapi manakala tidak disertai dengan prilaku yang baik atau keteladanan tidak cukup. Fakta menunjukkan tidak sedemikian rupa. Banyak orang pintar, akan tetapi minim akan akhlak. Tidak mencerminkan bahwa ia benr pintar.
Lebih jelasnya dapat kita lihat dalam lingkungan di beberapa wilayah menggambarkan banyak orang berpendidikan akan tetapi minim keteladanan. Katanya pintar, katanya berpendidikan, katanya cerdas namun membuang sampah saja masih sembarangan. Perbuatan tersebut dapat mencemari lingkungan, laut, sungai, tanah sehingga sampah terus mmenumpuk.
Berawal dari hal yang mungkin terlihat sepele seperti membuang sampah kecil, justru berimbas secara berkepanjangan. Tidak hanya alam yang merasa akibatnya. Penduduk terkena penyakit demam berdarah akibat nyamuk yang menyarang di tumpukan sampah, sehingga meresahkan warga. Jika sudah seperti ini maka siapa yang akan menanggung.
Mirisnya lagi, beberapa orang yang sudah mendapat jabatan karena pendidikan malah melakukan tindak tercela. Bagaimana tidak, kedudukan yang semestinya digunakan untuk mengayomi masyarakat justru digunakan sebagai kepentingan individu seperti korupsi.
lebih parah lagi, korupsi dilakukan oleh oknum-oknum penegak keadilan, yang idealnya mereka menjadi motor utama penggerak dalam pemberantasan korupsi. Pengadilan, Kejaksaan, hingga Kepolisian menjadi tempat keberadaan oknum-oknum. Jelas sudah bangsa ini membutuhkan suri teladan yang pantas dan layak untuk ditiru serta menjadi contoh. Setiap spektrum kehidupan dibutuhkan teladan.
Generasi muda membutuhkan sosok yang mampu memberikan suritauladan agar terbentukpemuda yang memiliki pendidikan dan akhlak baik. Keluarga atau rumah tangga membutuhkan figur seorang ayah yang menjadi tokoh utama dalam memberi keteladanan.
Pendidikan membutuhkan figur hebat sehingga tidak hanya sebagai pengajar namun juga pembentuk akhlak. Desa juga membutukan tokoh pemimpin kepala desa yang memiliki kemampuan berkomunikasi lintas-generasi, berpendidikan dan tentunya berakhlak baik. Oleh karena itu, sebagai kaum muda penerus bangsa sepatunya terus memperdalam pendidikan dan akhla baik, sehingga dapat merubah dunia lebih baik.