Sejarah telah merekam peperangan yang terjadi semasa Nabi Muhammad dan setelahnya. Seperti Perang Badar, Khandaq, dan lain sebagainya. Hal ini membuat orang awwam kebingungan. Pasalnya, Islam adalah agama damai. Namun, dalam sejarahnya, perang seringkali dilakukan umat Islam. Sehingga wajah Islam selalu dianggap buruk di mata dunia.
Terkadang dunia menilai Islam sebagai agama yang ekstrem, radikal, dan intoleran tanpa melihat sejarah dan ajaran-ajarannya. Tentu ini bukanlah hal yang benar. Perlu adanya refleksi sejarah dan penelusuran ayat-ayat perdamaian sebelum menilai agama. Termasuk Islam.
Islam berasal dari kata “salam” yang bermakna damai. Semua narasi dalam Al-Qur’an selalu menyerukan itu. Begitupun dengan peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Perang dalam narasi Islam hanyalah untuk pertahanan, bukan penyerangan. Nadirsyah Hosein dalam bukunya berjudul “Islam Yes, Khilafah No” menyebutkan bahwa bentuk peperangan dalam Islam bersifat defensif, bukan ofensif.
Dalam berperang, Islam melarang membunuh seorang pendeta, wanita, anak-anak, serta melarang untuk menghancurkan tempat ibadah. Dari sini, kita dapat berpikir bahwa peperangan dalam Islam bukan untuk mengislamkan lawan, tapi untuk menyebarkan perdamaian.
Islam tidak ingin kezaliman terus terjadi. Pada masa Nabi, kezaliman senantiasa ada. Pembantaian dan kekejian kafir Makkah misalnya. Islam mencoba menghapuskan kezaliman tersebut. Yaitu dengan jalan damai dan perang. Jalan perang adalah jalan terakhir dan tidak akan diambil jikalau perdamaian dapat dilaksanakan.
Nabi Muhammad sebagai teladan utama umat Islam telah memberikan contoh yang baik tentang perdamaian. Tak ada dendam dalam setiap perlawanan yang menghampiri Muhammad. Sebut saja ketika seorang kafir Makkah meludahi wajah Nabi Muhammad. Bukan kata-kata keji yang terlontar dari mulutnya ataupun marah dalam hati, melainkan do’a yang diberikan kepada kafir Makkah supaya diberi hidayah oleh Allah. Ketika kafir Makkah itu sakit, Nabi Muhammad dengan kesalihan sosialnya yang tinggi menjenguk ke rumahnya.
Kisah tersebut menjadi salah satu contoh bahwa Islam adalah agama damai. Tidak menyukai kekerasan apalagi pertempuran. Namun, Islam juga bukan agama yang lemah. Berani melawan jika ada yang mulai menyerang. Ini semua telah tercantum dalam narasi Islam. Jikalau ada narasi tentang perang, pastilah dibaliknya ada alasan perdamaian. Untuk itu, marilah kita menelaah ayat Islam dengan benar sebelum menilainya.