Esensi Toleransi Beragama

Toleransi

Dunia adalah wadah di mana banyak sekali keberagaman kehidupan manusia di dalamnya. Tanpa adanya kebaragaman, tentunya tidak akan muncul kesadaran manusia untuk bisa saling menghargai antar sesama, sikap saling menolong, saling peduli, atau bisa dikenal dengan istilah manusia sosial.

Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13 tertulis dengan jelas bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal (Ta’aruf). Menurut Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya Al-Durr Al -Mantsur Fi Tafsir Bil – Mat`sur menjelaskan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah dua pokok permasalah yang membedakan antara nasab dan perbedaan agama, yang tentunya ada kaitannya dengan toleransi.

Memang benar adanya, esensial tentang adanya makna kata toleran antar sesama muncul sebuah pemikiran untuk saling bisa menghargai tanpa adanya pertikaian atau perdebatan. Sebagai manusia sosial, toleran bukan lagi sekedar sebuah pandangan akan perbedaan yang ada, melainkan sikap saling sadar dan saling menghormati antar umat beragama.

Sekarang, apa jadinya jika negara Indonesia hancur, sedang Islam yang minoritas seperti di Bali, di Papua, dan di wilayah lainnya. Adakah kemungkinan kasus seperti di Myanmar dengan pembantaian, atau peristiwa yang masih hangat sekali diperbincangkan yaitu penembakan di Masjid Al-Noor Selandia Baru?. Tapi maaf negara Indonesia mempunyai sikap toleran yang tinggi termasuk agama Islam sendiri. Dengan kesadaaran sikap inilah hendaknya suatu lapisan masyarakat dapat menyadari betapa pentingnya hidup toleran untuk bisa menjalin hidup bersama tanpa mengganggu keharmonisan yang sudah ada.

Sedang dalam kaitannya dengan toleransi beragama, agama Islam sendiri mempunyai dalil atau landasan yang kuat, yaitu terdapat dalam surah Al-Kafirun ayat 8. Pada ayat tersebut tertera jelas pernyataan “Bagimu agamamu dan bagi saya agama saya” dalam sudut pandang memang kaitannya dengan agama. Dalam hal ini kita ambil sikap toleran antar beragama, maupun satu agama.

Sebut saja agama Islam. Kita ambil contoh pemuka Islam ternama K.H Hasyim Asy`ari (pendiri NU) yang kedatangan tamu yaitu KH.Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah). Pada saat K.H Ahmad Dahlan bersilatrrahim ke rumah K.H Hasyim Asy`ari, beliau K.H Ahmad dahlan tidak melihat bedug (Alat yang menunjukan waktu masuk Sholat), karena bedug tersebut sudah dipindahkan oleh K.H Haysim Asy’ari, mengingat K.H Dahlan tidak mengenal istilah mengajak orang sholat dengan menggunakan bedug.

 Berbicara toleransi agama kurang lengkap rasanya jika tidak membahas apa itu tujuan esensi agama. Menurut Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya pada pembukaan Dialog Pertama Interfaith dan Intellectual Indonesian-Singapura Seperti dilasir keterangan resmi pada Rabu (12:7), Beliau mengatakan “Agama itu berbeda dari sisi Eksternal atau Ritualnya, namun dari esensi/ subtansinya setiap agama di dunia ini mengajarkan nilai dan prinsip yang sama yaitu menegakkan keadilan, kemanusiaan, perdamaian, dan kesejahteraan seluruh umat manusia”.

Tidak hanya sampai disitu, dalam buku Universal Intelligencei disebutkan bahwa keberagaman adalah keniscayaan dan mewarnai segala suatu di muka bumi, sedang kesetaraan diartikan sebagai penempatan yang adil terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi,adapun kata keterjagaan sendiri meruapan terkendalinya kebersihan (kejernihan, purity), dan laku fisik, dan batin terhadap segala yang tidak diperkenankan Tuhan, yang menjauhkan manusia dari aspek kemanusiaannya.

Menurut tiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kata toleran mengandung arti yang luas untuk dipahami bersama dalam masalah perbedaan dan ketidaksetaraan yang ada di dalamnya, yang tidak menutup kemungkinan terjalinnya suatu keharmonisan antar sesama manusia. Selanjutnya tentang bagaimana menyikapi studi kasus apa yang dapat kita ambil sebuah pelajaran tentang sebuah perbedaan. Lantas bagaimana dengan kita yang seakan menganggap perbedaan kecil suatu permasalahn besar yang tak tau dimana ujung permasalhannya. Kita memang tidak bisa lepas dari adanya perbedaan, tapi tentang bagaimana cara kita menyikapi perbedaan itu adalah suatu wadah untuk kita saling menghargai antar umat beragama. (Muhamad Iqomudin)