Iri, Pembunuh Manusia

iri

Oleh : Donly Deriel

Mata itu metapnya dengan penuh arti. Ada rasa iri disana, ada tatapan sirik disana, tatapan itu seakan ingin berkata, ‘ih kok ngeri kali sepatunya, berapa inch tinggi heelsnya, berapa harganya, bagaimana mungkin dia mampu membelinya, ah seandainya sepatu itu saya yang pake’.. tatapan mata itu menatap seorang gadis muda yang cantik dengan sepatu high heels yang indah, melangkah keluar dari restoran bakso itu.

Iya sob, kejadian dalam sepenggal cerita diatas benar-benar terjadi. Jadi kemaren saat beli jeroan ke warung bakso langganan, tanpa sengaja saya lihat ada emak-emak yang lehernya hampir patah karena mengikuti pergerakan seorang wanita yang lumayan cantik pergi meninggalkan resto bakso itu. Ada perasaan geli, dan sambil senyum simpul saya berandai-andai mengenai isi pikiran emak-emak itu.

Ya kalo dibandingkan sama wanita muda yang meninggalkan resto tadi, si emak memang kalah jauhhhhh.. jadi gak perlu saya jelaskan mengenai perbedaannya sobat pasti sudah mengerti ya.

Kisah yang sama terjadi ribuan tahun yang lalu, ketika sang kakak menatap sirik sebuah persembahan dari sang adik. Tatapan yang seakan tidak menerima jika persembahan adiknya lebih disukai oleh Sang Pencipta. Salahnya dimana, mereka sama-sama mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan sebagai bukti rasa syukur mereka atas rejeki yang sudah mereka terima. Qabil mempersembahkan hasil ladangnya, sementara Habil mempersembahkan hasil dari ternaknya.

Rasa iri itu membutakan hati manusia, merusak moral, dan membunuh rasa kemanusiaan. Menumbuhkan rasa paling hebat dan paling berkuasa. Rasa iri itu jugalah yang membuat hubungan baik antara manusia dan penciptanya menjadi rusak. Rasa iri yang dibawa oleh si jahat, yang dengan sengaja menggoda kehendak bebas yang diberikan oleh Sang Pencipta, yang datang bermaksud untuk menjauhkan manusia dari tujuan dan kehendak penciptanya.

Selemah itukah hati manusia sehingga kelebihan sedikit yang dimiliki sesama bisa menjadi pemicu munculnya perasaan iri berkepanjangan? Apakah tidak ada rasa syukur lagi yang tersisa di salam hati dengan semua kebaikan Tuhan yang sudah kita nikmati?

Manusia, diciptakan dengan maksud dan tujuan yang sangat mulia, untuk menjaga, merawat, dan menguasai semua ciptaan Tuhan yang lainnya, akhirnya rusak oleh rasa ingin menyamai bahkan melebihi penciptanya. Anak-anak saling bermusuhan, orang tua saling mendendam, tetangga saling bertatap dengan tatapan sinis, semuanya hanya karena perasaan iri yang sudah terlanjur menguasai.

Hanya? Seandainya semudah itu. Perasaan itu bagaikan racun yang mematikan, mematikan bagi orang lain dan juga mematikan bagi diri kita sendiri. Hanya orang-orang yang belum mengerti akan dampak dari perasaan iri itu yang menggampangkan segala efek buruk yang bisa ditimbulkan.

Bagian dimana ada tatapan sinis dan iri di warung bakso hanyalah sepenggal dari kehebatan kuasa dari perasaan iri itu sendiri. Di tempat lain, di belahan dunia yang lain, apakah perasaan itu tidak ada?

Berhentilah sejenak dan lihatlah nikmat Tuhan apa yang sudah kita miliki saat ini, dan bersyukurlah dengan apa yang kita miliki karena berkah dari Tuhan hanya tersedia bagi mereka yang selalu bersyukur bahkan dengan kenikmatan yang hanya secuil