Fm Radio On Pesantren Di Era Digital

Banyak yang pesimis dengan perkembangan radio fm kedepan, karena akan digerus era digitalisasi, katanya. Seolah-olah fm radio pasti musnah dari plenat bumi. Era digital memang tidak bisa dibendung,  bukan berarti  membumihanguskan fm radio.  Apalagi jika tolak ukurnya adalah indonesia, dengan 34 provinsi 83.931 wilayah administrasi setingkat desa di Indonesia.

Radio fm  tetap memiliki pendengarnya sendiri. Konten siaran di radio fm sangat bisa menyesuaikan dengan era saat ini, salah satu cara adalah bagaimana radio fm harus mampu berkolaborasi, tanpa harus gulung tikar.  Justru dengan kolaborasi, jangkauan radio fm semakian tidak terbatas, bahkan bisa menjangkau pendengar dari generasi ke generasi.

Radio fm mampu berdiri sendiri. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa radio fm memiliki pendengarnya sendiri. Selalu ada peluang radio fm tetap mengudara, apalagi di pesantren-pesantren.

Kami memliki visi membantu pesantren-pesantren membangun radio, membantu pesantren dalam kemandirian ekonomi. Dan yang terpenting  dakwah pesantren yang rahmatan lil alamin bisa terdengar diluar pesantren, terdengar se kabupaten atau bahkan se provinsi.

Kami mengajak semua generasi, Generasi Tradisionalis, Generasi Baby Boomers , Generasi X , Generasi Milenia, Generasi Z , dan  Generasi Alpha agar terus mendengarkan radio fm dengan keunikan dan keotentikannya.

Dengan masih eksisnya fm radio hingga hari ini, Slogan ‘Sekali mengudara tetap mengudara’ terbukti mampu bertahan dibalik derasnya arus era digitalisasi. Radio fm akan selalu menemukan cara untuk tetap bertahan. Sering muncul pertanyaan, apakah masih ada yang mendengarkan radio? Jawabannya tentu masih ada. Ini indonesia, bukan negara seperti dalam film bergenre sci-fi, dimana  kenderaan tidak menyentuh tanah alias terbang. Kemungkinan radio fm tidak akan ada di negara seperti itu.