Audio Is King

Kalau berbicara soal radio, tentu audio inti dari segalanya. Semua konten ditentukan oleh bagus dan tidak audio yang disajikan ke pendengar, maka audio produksi sangat penting untuk stasiun radio. Dalam penyiaran, salah satu cara menarik pendengar adalah bagus atau tidak suara kita. Oleh sebab itu penyiar disarankan melatih suara  agar benar-benar terdengar seperti radio voice. Namun jika itu berupa siaran tunda, station id, iklan atau jinggle,  proses produksi yang akan membuat terdengar keren.

Produksi audio di sebuah stasiun radio harus memiliki  banyak cara dalam memproduksi sebuah produk audio. Bisa berupa hardware dan software pendukung dalam  mengolah audio, seperti kualitas dan kecocokan dalam fungsi serta karakter dari alat tersebut sangat mempengaruhi hasil dari output audio tersebut. Namun  hasil terbaik selalu ditentukan dari proses rekaman awal. Baru baru ini, radio project menerima mahasiswi Broadcasting IAIN Kota Salatiga Jawa Tengah. Dalam pelatihan tersebut, saya membantu mereka untuk memahami betapa pentingnya audio dalam dunia Broadcasting dan radio.

Apakah pernah menonton film horor sampai selesai tanpa audio? Saya pernah menonton film pendendek horor, dan menurut saya pribadi tidak menarik sama sekali. Atau coba nonton fim apapun itu tanpa audio, saya yakin kalian tidak akan betah menontonya. Berbeda dengan audio, audio bisa memberikan cerita dan menyampaikan pesan dengan baik tanpa gambar atau video. Bisa buktikan sendiri dengan menonton satu film tanpa audio, kemudian klik dan dengarkan drama radio ini: DOA (Drama On Air): Ketika Takdir Menguji Cinta   , DOA (Drama On Air): Harapan Diujung Senja, DRAMA RADIO: Menikah Muda Part 1, KU SIMPAN RASA INI DISETIAP DOAKU (EPISODE 1), DRAMA RADIO: Menikah Muda Part 2 ‘Bahagia Yang Retak’, PRAHARA: MENIKAH MUDA 3 (DRAMA ON AIR). Bandingkan sendiri , lebih menarik menonton film tanpa audio atau  hanya mendengar audio berupa drama radio? Silahkan ketik dikolom komentar pendapat sobat.

Karena pentingnya audio dalam stasiun radio, maka saya lebih fokus memberikan pelatihan mengenai audio produksi. Mulai pembuatan skrip konten, proses rekaman, dan mixing. Setelah para mahasiswi mengetahui dasar dari proses produksi, kemudian saya meminta mereka membuat sendiri. Berikut hasilnya:

Setelah para mahasiswi menyelesaikan ILM yang hanya berdurasi 1 menit ,yang mereka buat selama 4 jam, mereka pun tersadar, bahwa segala sesuatu yang kita dengar dengan mudah, dibelakangnya terdapat proses yang begitu sulit.

Jika aktifitas masyarakat sudah semakin sibuk maka mendengar konten audio akan menjadi kebiasaan, entah itu melalui fm radio atau melalui platform audio lainnya.

A.R.P.N